Beranda > 'Apa Saja' > Seri Pertama Petualangan Tintin: Propaganda Anti Komunis?

Seri Pertama Petualangan Tintin: Propaganda Anti Komunis?

halo blogger(s), ternyata memang sangat mudah untuk bicara. maaf  karena sudah terlalu lama tidak aktif dalam blog ini. saya harap teman-teman blogger semua belum ada yang mengira empunya blog ini sudah ‘koid’ ya. saya memang susah sekali berkomitmen dalam hal, padahal hal ini bagus sekali, lho! blogging! saya pernah berpikir bahwa saya adalah anak dengan banyak minat, iya, banyak minat tapi masing-masing tidak lama kemudian akan ditinggalkan. yah, komitmen perlu latihan saya rasa.

tin

Tokoh dalam Komik Tintin

saya suka komik Tintin jadi, pos kali ini boleh kan soal Tintin? khususnya tentang seri buku komik yang pertama, yaitu Tintin di Tanah Soviet.
Les Aventures de Tintin et Milou (Petualangn Tintin). berpikir bahwa Tintin adalah komik Prancis? tak sepenuhnya salah. karena sebenarnya komik Petualangn Tintin merupakan karya orisinil dari seniman Belgia, Georges Remi alias Herge dengan bahasa pertama/asli, Prancis (Belgia juga memakai bahasa prancis). Tintin pertama kali muncul bukannya sebagai komik dengan penerbit sendiri, dia muncul sebagai selingan pada section anak-anak di koran Belgia, Le Vingtième Siècle pada 10 Januari 1929. dirasa cukup menarik dan berciri khas, penerbit buku Casterman memutuskan untuk mengorbitkan komik Tintin. Nah, kesuksesan tidak langsung diraih Herge, buku komiknya yang pertama (sekaligus komik Tintin yang pertama saya beli), Tintin di Tanah Soviet ternyata dianggap ‘unik’ oleh banyak kalangan. seri yang terbit tahun 1930 ini dianggap terlalu ofensif, terlalu fantasi, dan rasis. mengapa?

Herge sebagai salah satu penghuni eropa barat yang hidup di tengah-tengah kaum menengah ke atas atau borjuis secara sadar mengkarakterkan Tintin sebagai tokoh yang angkuh, tengil, dan secara blak-blakan bisa dibilang mendiskreditkan Bolshevik sekaligus komunisme di Soveit masa itu. Herge memang pernah secara terbuka mengakui ketidaksukaannya pada komunisme kepada Abbe Wallez (seorang anti-komunis), rekannya saat dia bekerja sebagai ilustrator Moscow Unveiled. secara tersirat, tersurat dan tergambar, Bolshevik tampil layaknya sebuah organisasi mafia yang rakus, pamer kemakmuran palsu kepada negara lain, dan gila kuasa. Herge melalui tokoh Tintinnya bahkan secara terang-terangan menghina beberapa tokoh negara itu tanpa ada modifikasi nama terlebih dahulu! seperti Lenin, Stalin, dan Trotsky. tanpa rasa segan terhadap para bapak Soviet tersebut, Herge melalui Tintin mengatakan bahwa Stalin, Lenin, dan Trotsky menjarah semua kekayaan Soviet dan menyimpannya dalam bunker pribadi-benar-benar digambarkan di komik-mereka. bahkan ada sebuah kutipan perkataan Tintin yang cukup catchy pada halaman 30 terbitan Gramedia, “Beginilah orang-orang Soviet membodohi orang-orang malang yang masih mempercayai Surga Merah.

sovitu saat Tintin menemukan pabrik palsu Soviet yang hanya membakar jerami agar mengeluarkan asap dari cerobongnya agar sepintas terlihat seperti pabrik produktif yang sibuk. tanpa sungkan lagi, Herge mengilustrasikan Moskow era Bolshevik di komik itu sangat kacau, dan tidak berlebihan jika saya bilang seperti ‘kota gorong-gorong’ dimana digambarkan ada suatu gang suram terdapat orang Bolshevik membagi-bagikan roti kepada antrian gelandangan Moskow dengan menanyainya terlebih dahulu, “Kamu komunis?”.

jika seseorang dalam antrian tersebut mengaku komunis, maka dia mendapatkan roti, jika tidak dia akan ditendang dan diumpat habis-habisan. that’s true! saya tidak akan bohong memikirkan banyak artis saat ini dituntut karena pencemaran nama baik. itulah sebagian sikap-sikap dan pernyataan-pernyataan Tintin yang terkesan mendiskreditkan Bholsevik-komunisme. komik yang semula untuk menghibur ini pun teralihfungsikan menjadi media propaganda yang efektif menurut Blok Sekutu, Abbe Wallez, rekannya yang anti komunis. dan yang lebih mengejutkan, editor komik tersebut sangat mendukung sikap anti komunis yang ditunjukan Herge dalam seri komik pertamanya.

terlalu fantasi. segalanya tampak mudah bagi Tintin dan anjingnya Milo dalam menghadapi komplikasi-komplikasi yang muncul di alur ceritanya. ada saja kejadian yang terlalu ‘dipaksa’ agar Tintin tidak berlarut-larut pada satu masalah. ini adalah salah satu yang saya pikir sangat-sangat ‘dipaksa’ dan bersifat fantasi, pada halaman 48-49 terbitan Gramedia. Tintin saat itu karena suatu kejadian terjebak dalam lorong parit bawah tanah dengan jeruji yang menghalanginya, segala cara yang membutuhkan kekuatan otot sudah dicobanya namun tak bisa dia lolos dari sana. akhirnya aliran air dingin membuatnya bersin dan voila…jeruji dan tembok lorong hancur! Tintin pun lolos! kebiasaan ‘membuat-segalanya-mudah‘ dalam seri inilah yang juga mengundang banyak kritikan pedas.

Lotus Biru

bagi yang sudah memiliki buku komik Tintin di Tanah Soviet, tahukah kenapa seri itu tidak berwarna dan terkesan sederhana dalam penggambarannya sedangkan sebagian besar atau bahkan semua seri lainnya digambar dengan teknik yang bagus dan dengan pewarnaan?
karena itulah keadaan asli saat  Herge menciptakannya mengingat teknologi percetakan saat itu. Herge sadar akan ‘kesalahannya’ pada seri pertama itu dan menganggapnya sebagai dosanya dan memutuskan untuk tidak memperbaiki teknik ilustrasi gambarnya serta membiarkannya dicetak dalam hitam-putih di tahun-tahun berikutnya. karena pengalaman pertama buku komiknya yang kurang manis, akhirnya Herge berpikir bahwa dalam membuat cerita dia tidak boleh hanya mengarang dan menghayal saja, lebih dari itu dia harus melakukan penelitian di dunia nyata terlebih dahulu secara mendalam. terbukti, tahun 1935 seri buku komiknya yang ke-5, Lotus Biru dirilis. dengan latar belakang yang benar-benar terjadi saat itu,-invasi Jepang di Manchuria, Cina-menyuguhkan sebuah cerita konspirasi antara badan intelijen Jepang dan organisasi penyelundupan Opium yang sangat rapi, tidak sederhana, namun logis. sukses dan dianggap sebagai masterpiecenya yang pertama.
sejak seri Lotus Biru, Herge semakin bulat tekadnya untuk melakukan penelitian mendalam sebelum memulai cerita untuk membangun ‘dunia nyata’ di dalam komik Tintin. hasilnya? komik Tintin menjadi salah satu komik yang paling digemari dunia yang sudah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa dan terjual lebih dari 200 juta buku, serta banyak diadaptasi menjadi serial TV, film , teater, bahkan video games.

“Sudah saatnya aku melakukan penelitian yang mendalam atas negara dan kultur budaya, orang-orangnya yang ada pada negara itu, dimana aku mengirimkan Tintin kesana, sebagai tanggung jawabku kepada para pembacanya”Herge a.k.a Georges Remi.


(manusiakendi/wiki)

Kategori:'Apa Saja'
  1. Februari 2, 2011 pukul 12:09 am

    rasisme dalam komik… aduh, jangan sampai anak2 kena pengaruhnya

  2. Desember 16, 2010 pukul 3:16 pm

    Wah, gak ngerti maksudnya,,

  3. November 18, 2010 pukul 6:57 pm

    Silakan kunjungi blog sehat di http://www.wisnuvegetarianorganic.wordpress.com/

  4. komala sari
    November 15, 2010 pukul 11:05 am

    penggemar tintin ya? udah baca seri petualangan tintin in bandung?

    bener ga sih?

  5. Agustus 16, 2010 pukul 3:54 pm

    hm…mari terus berblogging manusia kendi🙂

  6. Juni 14, 2010 pukul 7:28 pm

    komik suka jaman smp heheh

  7. Mei 27, 2010 pukul 4:54 pm

    kk komenin blog saia dong sepi tuh

  8. Mei 27, 2010 pukul 4:52 pm

    komenin blog saya dong

  9. Hidayatullah Rosyidi
    Mei 25, 2010 pukul 8:19 am

    Disengaja atau tidak, sikap rasisme itu telah terjadi di sepanjang petualangan Tintin. Baik ketika berada di Amerika, Mesir, Arab, Amerika Selatan dan Indonesia. Kita dipaksa menerima heroisme detektif/wartawan yang fisiknya kekanak-kanakan dan tidak perah menjadi tua ini. Hal yang sama terjadi pada petualangan Dr. Karl May – Old Shatterhand – di Amerika maupun di negeri-negeri Balkan. Kendati demikian, kisahnya yang dibumbui ilustrasi dan sitcom itu cukup tertata rapi hingga tetap asyik dinikmati. Salam.

    • Mei 25, 2010 pukul 9:26 am

      soal rasisme, saya belum membaca semua seri nya jadi belum tau. selebihnya saya setuju. thanks

  10. Mei 23, 2010 pukul 12:56 pm

    racun intlktual

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s